GALERI TUJUH

WOMAN ON BICYCLE: PANEN PADI

 

 

Panen padi adalah ritual caturwulanan yang selalu ditunggu para petani. Kultur agraris telah membentuk profesi pertanian menjadi pilihan utama bagi orang-orang pedesaan sejak masa lampau. Panen padi merupakan hiburan sederhana yang mampu mengobati kepenatan dan kelelahan para petani setelah mandi keringat menggarap sawahnya. Meskipun harga beras masih belum mengangkat nasib petani Indonesia, namun kebahagiaan selalu terlihat di wajah para petani ketika tiba waktunya untuk memetik padi yang sudah menguning.

Dalam kesempatan photostation Woman on Bicycle kali ini, saya mengambil thema panen padi sebagai setting pemotretan. Dengan bantuan Kang Muntowil, tokoh onthelis Jogja yang mulai menasional, berhasil diperoleh lokasi rumah lawasan yang cukup artistik sekaligus eksotik sebagai background pemotretan. Rumah yang terletak di Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo ini, berada tepat ditengah-tengah area persawahan. Sehingga sangat terasa sekali hembusan angin sepoi-sepoi khas pedesaan.



 

Cahaya matahari pada hari itu sungguh sangat terik sekali, sehingga membatasi sudut-sudut pemotretan yang layak diambil. Namun demikian, Dea sebagai model tamu kali ini, tampak menikmati sekali suasana rumah pedesaan yang terasa sangat damai tentram ini. Kemudian sebagai property pemotretan, Kang Towil juga berbaik hati meminjamkan sepeda dames Gruno yang tampak sangat klasik karena dilengkapi dengan stang celluloid dan kornetten pada spatbord belakang. Lalu untuk gear pemotretan, saya menggunakan Nikon D80 dengan penggunaan kombinasi 3 lensa yakni dengan Nikkor AF 24mm/f 2.8 D, Nikkor 50mm/f 1.8 D, dan Nikkor Zoom AFS 18-135 mm/ f 3.5-5.6 D ED. 


 

Kebaya sederhana berwarna biru yang membalut tubuh Dea ini, tampak serasi dengan warna rumah yang kebiru-biruan. Sepeda Burco yang tampil apa adanya tanpa proses restorasi juga menambah nuansa klasik tempo dulu yang sengaja dibangun. Suasana desa yang apa adanya memang memberikan fleksibilitas untuk memilih sudut pemotretan yang akan diangkat. Namun sekali lagi, karena waktu sudah sangat siang, sehingga saya perlu mensiasati gangguan sinar yang menerpa langsung ke wajah Dea. Memang cukup melelahkan memotret di jam panas, namun setelah melihat hasilnya…memang tidak sia-sia bermandi keringat sesiang itu. 

 

 


Copy Right (c) 2007 Sahid Nugroho