GALERI EMPAT

WOMAN ON BICYCLE: DEWI

 

Salahsatu icon heritage yang cukup unik dan sayang untuk dilewatkan begitu saja di kota Yogyakarta adalah obyek wisata Taman Sari yang pada jaman dulu merupakan taman resmi Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat . Taman Sari tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan Raja dan keluarganya, namun juga sering dimanfaatkan sebagai tempat meditasi Raja.

Taman Sari sesungguhnya masih terletak pada lokasi dalam satu sistem lingkungan kompleks Kraton Yogyakarta, namun dalam proses perkembangan jaman, taman kerajaan yang bentuk aslinya dulu sungguh luar biasa indah ini kemudian berubah menjadi sebuah pemukiman umum yakni Kampung Taman dan pasar tradisional Ngasem untuk pasar umum dan pasar hewan.

 

 

Bangunan dengan arsitektur yang banyak didasari platform desain Eropa Portugis ini, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I pada akhir abad XVII. Kompleks Taman Sari selengkapnya terdiri dari Masjid Saka Tunggal, Gedung Tetirah, Kolam Pemandian, Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti yang berwujud bangunan tinggi yang dikelilingi kolam air, Sumur Gemuling dan sistem lorong bawah tanah yang cukup kompleks.

Taman Sari kali ini dipilih menjadi venue pemotretan photostation “Woman on Bicycle” sebagai bagian dari kampanye kembali bersepeda. Model tamu dalam kesempatan ini adalah Dewi Puspitasari. Sebagaimana model-model terdahulu, Dewi pada kesehariannya juga tidak terlalu akrab dengan sepeda, sehingga dia memerlukan sedikit waktu untuk mulai bisa menikmati kebersamaannya dengan sepeda Fongers DZ produksi tahun 1922 yang digunakan dalam pemotretan.

 

 

Pengalaman gadis lajang asli kota gudeg yang sudah malang melintang cukup lama di dunia model, membuat proses kreatif pemotretan mengalir dengan lancar. Matahari sore yang secara alami memberikan tone “warm” juga turut memperkuat setting bangunan Taman Sari yang bercat krem pucat. Tantangan terberat dalam sesi pemotretan kali ini adalah pada saat proses pengambilan gambar di lokasi Sumur Gemuling yakni tempat yang dulunya diyakini sebagai area untuk sholat. Saya terpaksa harus menggendong sepeda menyusuri lorong-lorong berliku yang lumayan jauh dan kemudian juga menaiki beberapa sistem tangga yang cukup curam untuk bisa sampai pada lokasi tersebut. Namun lelah keringat menjadi hilang begitu saja, ketika saya melihat sepeda Fongers DZ berhasil saya letakkan tepat di sentral bangunan Sumur Gemuling. Akhirnya terlihat sebuah pemandangan yang cukup indah dan unik. Selamat menikmati…Stop Global Warming with Less Carbon Life Style...Mau?

 

 


Copy Right (c) 2007 Sahid Nugroho