KLANGENAN SERI 23


Test Ride BSA Airborne (sahid nugroho, 22/7/12)

 

Pada awalnya mungkin tidak banyak orang Indonesia yang mengenal sepeda BSA Airborne. Sepeda ini benar-benar kalah populer dengan sepeda Gazelle Seri 11 dan Simplex Cycloide yang waktu awal-awal demam sepeda onthel melanda Indonesia pada tahun 2005-2006, benar-benar menjadi target buruan terbesar oleh kalangan pecinta sepeda tua. Perhatian dan pengetahuan orang terhadap BSA Airborne ini mulai muncul ketika melihat koleksi sepeda BSA Airborne milik Pak Yudi Kasim, pemilik toko Marcopolo, yang diikutsertakan pada Pameran Podjok (Pagoejoeban Onthel Djogdjakarta) di arena Desa Tembi tahun 2006 dan di arena Jogja Fair tahun 2009 di JEC (Jogja Expo Center) Yogyakarta. Pada waktu itu orang berdecak kagum melihat sosok sepeda perang dengan desain cukup inovatif pada jamannya dulu karena mampu dilipat sedemikian rupa sehingga bisa dibawa terjun oleh pasukan para komando Inggris dalam kancah perang dunia kedua. Kemudian pada kesempatan berikutnya, sepeda bersangkutan kembali disertakan dalam pameran Indische Fietsen di Bentara Budaya Yogyakarta pada tahun 2010. Dan terbukti sepeda tersebut kembali menyita perhatian khayalak masyarakat karena semakin banyak orang mengenalnya sebagai sepeda legendaris Inggris yang patut dicermati karena mengandung segudang cerita heroik.

Sepeda BSA Airborne memang bisa disebut sebagai salah satu sepeda tempur legendaris dari daratan Inggris. Popularitas sepeda ini setara dengan Jeep Willys dari pasukan Amerika Serikat. Sepeda ini benar-benar naik pamornya ketika mulai digunakan sebagai perlengkapan taktis pasukan para komando Inggris yang diterjunkan dalam berbagai pertempuran Front Eropa Barat Perang Dunia II tahun 1944 pasca pendaratan Normandia Perancis. Keberhasilan pasukan para komando RAF Inggris dalam menerobos lingkar pertahanan Jerman yang terkenal ketat adalah tidak lepas dari keberadaan sepeda BSA Airborne yang mampu memindahkan pasukan secara lebih cepat di luar dugaan atau bayangan komando pasukan pertahanan Jerman. Sehingga banyak sekali kisah sukses yang bisa diraih pasukan para Inggris terkait dengan kecepatan manuver pasukan untuk menembus wilayah-wilayah pendudukan Nazi Jerman terutama di Belgia dan Belanda.

 

Gambar 1

Pada sebuah kesempatan, akhirnya saya bisa mencoba mengendarai BSA Airborne. Bayangan awal saat mengendarai sepeda ini, ingatan saya langsung melayang pada sosok sepeda BMX yang sangat populer di era tahun 1980-an. Desain rangka BSA Airborne barangkali telah memberi banyak inspirasi pada desain sepeda BMX meskipun faktanya tidak sama identik. Saat memegang sepeda ini pertama kali, saya lalu mencoba mengangkatnya, dan kemudian memang benar-benar sepeda ini sangat terasa ringan di tangan namun tetap mantap dikendarai. Berat sepeda BSA Airborne secara keseluruhan hanya sekitar 15 kg, atau 10 kg lebih ringan dibandingkan dengan bobot sepeda klasik pada umumnya. Namun demikian bobot yang ringan tersebut ternyata mampu secara efektif menanggung beban pengendara dan perlengkapannya sampai dengan 100 kg. Diyakini Pabrikan BSA menggunakan standar logam dengan mutu metalurgi yang tinggi, sehingga sepeda ini selalu dijumpai dalam kondisi utuh tanpa ada bagian yang patah atau bengkong.

Ketika saya mulai menjalankan sepeda BSA Airborne dijalanan aspal, kayuhan sepeda benar-benar terasa ringan dan sangat mudah sekali untuk dipacu sampai pada kecepatan maksimal. Sepeda perang pasti sudah didesain sedemikian rupa agar mampu dipacu tanpa kehilangan keseimbangan. Dengan desain pedal yang hanya berbentuk logam slinder dan bisa didorong masuk saat sepeda dalam posisi dilipat ini, memang kadang-kadang pada awalnya menyulitkan saya untuk kemudiansaya adaptasi dengan memanfaatkan hak sepatu dimana pedal slinder bisa diposisikan pada lekukan hak sepatu sehingga mengurangi resiko kayuhan terpeleset.

Gambar 2

Manuver untuk berbelok tajam juga bisa dilakukan tanpa masalah berarti baik pada jalan menurun maupun jalan mendaki. Saya yakin desainer sepeda ini tentunya telah memperhitungkan tingkat kesulitan di berbagai tipe medan perang dalam merancang bangun BSA Airborne, sehingga frame sepeda ini memberi ruang akselerasi yang mudah bagi si pengendara. Sepeda ini dilengkapi dengan rem karet depan dan belakang yang memberikan fitur keamanan maksimal bagi si pengendara. Sadel orisinil yang melekat di sepeda BSA Airborne adalah BSA B40 yang memiliki desain mirip dengan Brooks B17. Sadel B40 dengan desain kecil memanjang ini, adalah tergolong tipe sadel yang biasanya digunakan pada sepeda pacu (Gambar 2). Sehingga saat pengendara memacu sepeda BSA Airborne, paha kiri dan kanan tidak terhalang lekukan sadel. Namun demikian kelemahannya adalah pantat menjadi mudah pegal dan panas karena sadel tipe ini tidak dilengkapi per pegas, namun semata-mata hanya mengandalkan pegas bahan kulit sadel saja.

Gambar 3

Roda-roda BSA Airborne menggunakan ukuran velg 26 inchi. Roda depan beruji 32 kemudian roda belakang beruji 40. Formasi standar untuk sebuah sepeda produksi pabrikan Inggris. Roda belakang memiliki ruji lebih banyak karena dianggap akan menjadi titik tumpu bagi sebagian besar bobot pengendara. Ban orisinil yang digunakan juga bukan sembarangan. Ada dua pabrikan yang memasok ban dengan mutu war grade bagi BSA Airborne yakni Dunlop dan Michelin. Kedua pabrikan ban terkenal dari Inggris tersebut berhasil mengembangkan ban dengan daya tahan tinggi, dan hal ini terbukti dari kekuatan ban yang masih bisa digunakan sampai saat ini meski sudah berusia 60 tahun.

Kemudian BSA Airborne menggunakan crankstel dengan desain piringan standar BSA seperti pada umumnya yakni ada cetakan huruf B, S dan A pada setengah lingkaran piringan (Gambar 3). Gir belakang juga menggunakan gir free wheel produksi BSA. Kemudian hal penting dan pokok yang sekaligus menjadi ciri otentitas sepeda BSA Airborne adalah pada supitan roda belakang sebelah kiri bawah. Bagian tersebut menjadi lokasi penomoran rangka sepeda (Gambar 4). Nomer seri selalu diawali dengan huruf R kemudian disusul 5 angka selanjutnya. Jadi ada kemungkinan bahwa sepeda ini pada fakta sejarahnya pernah diproduksi sampai puluhan ribu unit.

Gambar 4

Bagi penggemar sepeda tua klasik, mungkin sosok BSA Airborne bisa jadi tidaklah menarik untuk dikoleksi karena bentuknya yang cenderung modern dan polos. Namun demikian, bila kita mempertimbangkan kandungan nilai sejarah dari sepeda bersangkutan, sesungguhnya BSA Airborne adalah sepeda yang wajib dikoleksi. Apalagi sifatnya yang fungsional yakni mudah untuk dilipat dan dibawa, membuat sepeda ini bersifat sangat mobil yang cocok mendukung kegiatan lapangan. Sekali lagi BSA sebagai sebuah pabrikan alat transportasi telah membuktikan prestasi yang luarbiasa dengan maha karya ini.

 


Copy Right (c) 2011 Sahid Nugroho