KLANGENAN SERI 22- Sahid (5/8/11)


SADEL AYUN (ZWEEFZADEL)

 

Saya pertamakali melihat sadel tipe ini pada saat Pameran Sepeda Onthel yang diselenggarakan Podjok di Taman Budaya Yogyakarta tahun 2007 silam. Bentuk sadel yang unik dan sangat "pria"ini memang menyebarkan "sihir" bagi siapapun yang melihatnya. Empat tahun kemudian barulah saya berkesempatan untuk memilikinya. Zweefzadel koleksi saya ini bermerek KLM buatan Belanda. Sadel ayun atau dalam bahasa Belanda disebut sebagai Zweefzadel sebetulnya bukan didesain untuk sepeda biasa. Sadel ini sepenuhnya lebih diperuntukkan untuk sepeda bermesin, meskipun secara teknis juga bisa dipasang pada sepeda biasa tanpa kendala apapun.

Gambar 1

 

Sadel ayun memiliki kontruksi yang relatif sederhana. Pola ayun zadel sepenuhnya hanya bertumpu pada slinder karet hitam yang diletakkan pada as sadel depan. Dan ternyata karet tersebut cukup keras, sehingga sesungguhnya efek ayun tidak terasa sama sekali. Pada suatu waktu, sadel ini saya pasang di Simplex Cycloide Kruisframe (SCK), dan benar-benar membuat penampilan sepeda menjadi terangkat jauh. Desain sadel yang macho berpadu dengan SCK yang tidak kalau macho juga.

Namun demikian, penampilan yang menawan di atas ternyata tidaklah cukup berarti ketika saya mulai mengayuh sepeda. Pada jarak satu kilometer, selangkangan mulai terasa tidak nyaman. Bagian depan sadel ternyata cukup keras, sehingga sangat menekan bagian selangkangan ketika si pengendara melakukan gerakan mengayuh. Inilah mungkin sebagai jawaban mengapa sadel ini lebih baik digunakan pada sepeda bermesin. Pada sepeda bermesin, karena si Pengendara relatif jarang mengayuh karena sudah ada mesin, sehingga posisi bagian selangkangan aman-aman saja.

Gambar 2

Posisi tuas putar menghadap kebawah, tepat dibawah as depan adalah digunakan untuk menentukan jarak rangka atas yang menekan ke karet sebagai ukuran tingkat ayunan. Saya sudah mencoba melakukan posisi ekstrem yakni posisi tuas longgar kebawah dan posisi tuas kencang ke atas, ternyata sesudah dicoba pada masing-masing posisi tuas tersebut, tidak terasa sama sekali tingkat perbedaannya. Mempertimbangkan kondisi uji coba sadel sebagaimana dijelaskan di atas, saya kembali menegaskan bahwa sadel Zweefzadel memang lebih baik digunakan pada sepeda bermesin dibandingkan pada sepeda biasa.

Gambar 3

 


Copy Right (c) 2011 Sahid Nugroho