KLANGENAN SERI 21- Sahid (16/6/11)


TEST RIDE UNION STRANO

 

Gambar 1
Gambar 2

 

Pertamakali melihat sepeda ini, saya cukup geli dengan desain frame yang terkesan mirip sepeda untuk pertunjukan sirkus. Sepeda yang cukup kontemporer ini, bisa disebut sebagai produk gagal. Dalam sejarahnya hanya diproduksi sebanyak 2.000 unit yang diluncurkan pada tahun 1963 (Twee Willier, 2011). Kegagalan Union Strano barangkali disebabkan pada keterbatasan lingkup penggunaan sepeda itu sendiri yang hanya cocok dipakai untuk jarak tempuh yang pendek atau pada lingkungan terbatas. Tercatat dalam sejarah industri sepeda, sepeda dengan tipe seperti ini hanya pernah diproduksi oleh pabrikan Belanda dan Itali. Union Strano dalam pengamatan saya, sesungguhnya dirancang bukan untuk melaju di jalanan raya sebagaimana sepeda reguler pada umumnya. Konsep sepeda ini adalah sepeda kantor atau alat transportasi dalam lingkungan kantor. Konsep produk tersebut bisa dikenali dari ukuran ban yang digunakan, desain kemudi serta konsep iklan komersial resminya.

Mengenai aspek ukuran ban sebagaimana terlihat pada Gambar 2 dan 3, ban depan menggunakan tipe 12 X 1 1/2 ruji 18 dan ban belakang jenis 24 X 1 3/8 ruji 36. Ukuran ban depan yang sangat kecil yakni 12 inchi dimaksudkan untuk memudahkan si pengendara turun naik sepeda dari sisi depan. Kemudian ukuran ban belakang 24 inchi adalah ukuran terendah yang masih nyaman untuk dikendarai orang dewasa. Ban ukuran tersebut dipilih karena transportasi dalam kantor tidak butuh ban yang besar dan sekaligus membuat ukuran sepeda menjadi lebih compact mudah untuk diparkir atau disimpan. Sistem pengereman berada di roda belakang dengan menggunakan rem tipe torpedo bermerek Sachs buatan Jerman (Gambar 6). As roda depan tipe free wheel bermerk Union (Gambar 5).

 

Gambar 3
Gambar 4

 

Kemudian berkaitan dengan desain kemudi. Kemudi Union Strano yang melingkar di bawah sadel memiliki keterbatasan dalam hal manuver membelok. Pada belokan tajam, kemudi akan menyinggung paha si pengendara. Sistem kemudi seperti ini juga cenderung tidak stabil karena semua titik berat tertumpu pada ban belakang, sehingga sangat berbahaya bilamana sepeda ini dipacu dengan kecepatan tinggi, sewaktu-waktu si pengendara bisa terjatuh bilamana lalai menjaga keseimbangan. Apalagi sistem rem yang digunakan adalah rem torpedo, dimana pada situasi pengereman si pengendara harus membagi perhatian antara menekan pedal belakang untuk mengerem dan menjaga keseimbangan kemudi akibat kecepatan yang melambat. Namun demikian bilamana dikembalikan pada konsep sepeda kantor, maka keterbatasan sistem kemudi bukan menjadi masalah penting, karena sepeda ini memang didesain untuk digunakan dengan kecepatan minimal saja.

Gambar 5
Gambar 6

 

Konsep iklan komersial Union Strano yang menunjukkan kostum pengendara dengan setelan jas resmi (Gambar 1) memperlihatkan secara tegas bahwa sepeda ini adalah sepeda kantor. Pada konteks perusahaan besar yang memiliki area perkantoran yang luas, tentu saja diperlukan alat transportasi sederhana untuk menghemat tenaga. Desain sepeda yang mempermudah akses naik dan turun dari sepeda memperlihatkan fungsi sepeda sebagai alat transportasi jarak minimum. Desain tersebut sekaligus juga memperkecil ukuran sepeda secara keseluruhan, sehingga mudah untuk diparkir dalam ruangan kantor. Meskipun demikian, ada pertanyaan yang menggelitik bahwa kalaupun sepeda ini dirancang untuk lingkungan kantor, tetapi mengapa tetap menggunakan sistem lampu setopan dan dinamo (Gambar 4). Barangkali hal ini dimaksudkan untuk memperluas fungsi sepeda untuk bisa digunakan untuk melaju di jalanan biasa.

 

Gambar 9
Gambar 10

 

Hasil test ride yang pernah saya lakukan di arena jalan raya menunjukkan bahwa kayuhan Union Strano terasa cukup nyaman meskipun menggunakan ban depan yang kecil. Kecepatan sepeda tentu saja sangat terbatas karena hanya didukung ban ukuran 24 inchi. Test ride juga mengkonfirmasi bahwa ketika digunakan pada jarak tempuh relatif jauh, tingkat kelelahan dan kepenatan tubuh ternyata mudah terjadi. Desain kemudi yang cenderung tidak ergonomis membuat posisi badan pengendara harus selalu tegak sekaligus berfungsi sebagai poros keseimbangan bagi sepeda itu sendiri. Pada saat membelok, kecepatan sepeda harus benar-benar dipelankan karena posisi setir akan bersinggungan dengan kaki dan muncul tekanan keseimbangan yang cukup besar. Barangkali hal-hal inilah yang membuat pasar Belanda tidak menyambut positif penawaran produk unik ini pada waktu itu.

Gambar 11
Gambar 12

 

Mengenai desain tunggangan, Union Strano menggunakan standar sadel vynil produksi pabrikan Lemet Boxina dari Belanda (Gambar 12). Sadel vynil tentu saja tidak senyaman sadel kulit, sehingga menambah faktor ketidaknyamanan pada sepeda ini. Kelemahan lainnya adalah desain klem tiang sadel yang hanya menggunakan tabung pengikat tanpa dasar. Sehingga bila tidak dikencangkan sempurna, tiang sadel beresiko akan melorot kebawah dan menghujam sekaligus merusakkan spatbord belakang.

Akhir kata, Union Strano meskipun berstatus produk gagal namun keberadaan sepeda ini sangat fenomenal sebagaimana produk gagal legendaris lainnya yakni Simplex Zweefiets. Kegagalan produk ternyata justru berbuah kelangkaan produk yang selanjutnya membuat produk bersangkutan menjadi collectible item yang diburu para kolektor.

 


Copy Right (c) 2011 Sahid Nugroho