KLANGENAN SERI 19 - Sahid (5/3/11)


SETOPAN GAZELLE

 

Aksesori apapun dari sepeda Gazelle selalu menarik untuk dibahas. Kali ini saya akan mendiskusikan variasi setopan orisinil Gazelle yang bisa saya temukan dari artefak-artefak setopan Gazelle yang beredar di Indonesia maupun Belanda. Ada 2 tipe setopan orisinil Gazelle yang selama ini dikenal. Tipe pertama adalah setopan untuk spatbord belakang model polos, kemudian tipe kedua adalah setopan untuk spatbord model buntut. Desain spatbord buntut adalah desain khas milik sepeda Gazelle yang sejauh ini tidak ditiru oleh pabrikan Belanda lainnya, maupun pabrikan Jerman dan Inggris.

Dua setopan pertama yang akan dibahas adalah untuk tipe setopan untuk spatbord model polos. Pada Gambar 1 terlihat setopan Arko, merek aksesori sepeda keluaran pabrik Gazelle. Arko adalah salahsatu merek aksesori independen yang dikembangkan oleh Gazelle selain Elga dan Prico. Setopan Arko ini diyakini adalah setopan orisinil untuk sepeda Gazelle spatbord polos generasi pertama berlaku pada periode sekitar tahun 1930-1945. Setopan dengan bahan kuningan, lis alumunium dan lampu bulat kaca ini memancarkan cahaya yang sangat indah ketika coba difungsikan sebagaimana terlihat pada Gambar 2.

 

Gambar 1
Gambar 2

 

Setopan sepeda Gazelle spatbord polos berikutnya yang bisa disebut sebagai setopan spatbord model polos generasi kedua, adalah sebagaimana terlihat pada Gambar 3. Desain setopan Gazelle periode sekitar tahun 1955-1965 ini, ternyata juga diadopsi oleh sepeda merek Fongers yang menggunakan model sama persis. Setopan ini berbahan besi dan menggunakan reflektor mika. Reflektor mika memiliki penampilan yang tidak sebening kaca, namun kemampuan dalam mentransmisikan cahaya relatif tetap efektif bilamana permukaan mika masih mulus dan tidak kusam atau kabur.

 

Gambar 3
Gambar 4

 

Tiga setopan berikutnya yang akan diutarakan adalah tipe setopan untuk spatbord model buntut. Setopan model buntut yang diproduksi oleh Pabrik lampu Koets ini, memiliki variasi 4 macam. Dua yang pertama berbodi alumunium dan dua sisanya berbodi plastik. Dalam kesempatan kali ini saya hanya membahas detil 2 varian bodi alumunium dan bahasan secara umum untuk varian bodi plastik.

Gambar 5 menunjukkan setopan orisinil Gazelle yang biasanya diadopsi oleh Gazelle seri 6 sampai dengan seri 10 yang juga bisa disebut sebagai setopan model buntut generasi kedua. Bahan setopan terdiri dari bahan kuningan untuk tutup belakang lubang spatbord dan sarang lampu, bahan alumunium untuk bodi reflektor dan bahan kaca kristal untuk reflektor (lihat juga Gambar 7 dan Gambar 8). Ciri utama dari setopan seri ini adalah konfigurasi reflektor berbentuk formasi bintang kecil 6 dan bintang besar 12 sebagaimana dapat dilihat kembali pada Gambar 5. Penampilan setopan yang memukau saat dinyalakan seperti terlihat pada Gambar 6 tersebut, dengan jelas tetap memperlihatkan gugusan bintang 6 dan bintang 12.

Dari referensi Belanda, setopan serupa untuk seri 5 disebutkan memiliki desain secara keseluruhan sama, namun pada bagian reflektor berbentuk kaca bulat, bukan reflektor kaca pipih seperti di atas. Artefak setopan seri 5 tersebut sejauh ini saya belum pernah menemui baik di Indonesia maupun Belanda. Setopan spatbord model buntut seperti ini barangkali bisa disebut sebagai setopan generasi pertama.

 

Gambar 5
Gambar 6

 

Selanjutnya saya ingin menunjukkan setopan model buntut generasi ketiga. Dibandingkan pada seri sebelumnya, setopan Gazelle seri 11 sampai dengan seri 14 memiliki perubahan minor yakni pada desain reflektor yang sekarang bertambah ada benjolan bulat di tengah. Dalam hal ini, ada 3 (tiga) catatan yang perlu diperhatikan terkait dengan variasi perubahan desain setopan secara minor.

Catatan pertama, material reflektor memiliki 2 variasi, untuk sepeda Gazelle seri 11 sebelum nomer seri 11-50000 menggunakan bahan kaca, sedangkan untuk nomer seri sesudahnya berubah menggunakan bahan mika. Pada Gambar 9 dapat diperbandingkan setopan dengan bahan kaca disebelah kiri dan bahan mika disebelah kanan. Bahan kaca mampu menghasilkan refleksi cahaya yang jauh lebih indah dibanding bahan mika. Bukti lain dari kelebihan kinerja bahan kaca dibandingkan bahan mika dapat dilihat pada saat setopan berfungsi. Gambar 11 menunjukkan kinerja reflektor berbahan kaca yang tampak sangat bening memukau dibandingkan reflektor berbahan mika sebagaimana tampak pada Gambar 12.

 

Gambar 7
Gambar 8

 

Catatan kedua, pada setopan seri 14, meskipun secara keseluruhan memiliki penampilan desain yang sama. Namun setopan seri 14 memiliki diameter drat bodi alumunium yang lebih lebar yakni selebar 19 mm dibandingkan seri 13 ke bawah yang berdiameter selebar 17 mm. Perbedaan diameter tersebut dapat diamati secara fisik pada Gambar 10, dimana lubang setopan sebelah kiri lebih lebar dibanding lubang setopan sebelah kanan. Sejauh ini masih belum dipahami alasan teknis dari perubahan diameter ini.

 

Gambar 9
Gambar 10

 

Gambar 11
Gambar 12

 

Sebagai catatan ketiga. Pabrik Koets juga memproduksi setopan untuk Bakfiets dengan desain sama persis, kecuali perbedaan kecil yakni keberadaan 7 lubang kecil pada bodi reflektor sebagaimana terlihat pada Gambar 13 dan Gambar 14. Penampilan setopan ini saat dipasang pada sepeda Gazelle 100 persen identik, sehingga bisa menjadi pilihan alternatif yang otentik karena dibuat oleh pabrikan yang sama. Demikian 3 catatan yang perlu diperhatikan untuk setopan Gazelle seri 11 sampai dengan seri 14. Tentu saja, setopan berbahan reflektor kaca kristal jauh lebih bernilai tinggi dibandingkan setopan dengan reflektor mika.

 

Gambar 13
Gambar 14

 

Akhirnya kita sampai pada varian ketiga setopan untuk spatbord model buntut. Saya menemukan setopan ini terpasang pada sepeda Gazelle produksi tahun 1964 (Gambar 15) dan tahun 1967. Hal yang berubah, pabrikan Gazelle mengganti bodi alumunium dengan plastik yang sejujurnya menjadi tidak klasik dan tidak menarik. Alasan efisiensi untuk survival dari tekanan persaingan usaha dalam industri sepeda di Belanda, barangkali menjadi penyebab perubahan serba plastik ini. Sarang lampu dari bahan kuningan sudah tidak ada lagi, mesin lampu sekarang menempel langsung pada bodi setopan (Gambar 16). Kemudian seperti yang terlihat pada Gambar 17, penampilan refleksi cahaya saat setopan difungsikan menunjukkan kinerja yang sama dengan setopan generasi kedua. Jaman lebih maju, namun justru mutu barang malah lebih mundur.

 

Gambar 15
Gambar 16

 

Gambar 17

 

Sebagai diskusi penutup, saya juga ingin menunjukkan replika setopan Gazelle yang bermutu lumayan untuk digunakan sebagai subtitusi setopan orisinil. Setopan buatan wong Jogja ini, diproduksi dengan menggunakan teknologi manual, sehingga hasil produksi menjadi tidak terstandar dengan baik sebagaimana terlihat pada Gambar 18 dan Gambar 19. Namun demikian, dengan harga jual sekitar seperlima dari harga setopan orisinil, membuat replika ini tetap menarik untuk dibeli. Sebagai catatan pertama, setopan ini sepenuhnya hanya berfungsi sebagai reflektor karena si produsen menggunakan kertas grenjeng guna melapisi bagian dalam reflektor mika agar mampu merefleksikan sorotan cahaya. Dengan demikian cahaya dari belakang tidak bisa diteruskan karena terhalang kertas grenjeng tersebut. Catatan kedua, guna memasang setopan replika ini, bagian bodi diolesi lem agar menempel pada selongsong buntut spatbord sepeda Gazelle. Pada kasus tertentu, bodi justru lebih besar dari selongsong, sehingga cara memasang tidak perlu dilem tetapi dipantatkan ke selongsong dengan cara dipukul perlahan.

 

Gambar 18
Gambar 19

 

 


Copy Right (c) 2011 Sahid Nugroho