KLANGENAN SERI 18- Sahid (28/12/10)


SPG: KOTAK Vs. LENGKUNG

 

Kemunculan sosok SPG selalu membuat setiap orang terpesona. Keindahan bodi SPG menjadikan sepeda ini menjadi target buruan terpopuler untuk merek Simplex. SPG yang dimaksud adalah Simplex Palang Gapit yang dikenal dengan nama resmi Simplex Cycloide Kruisframe. Di Indonesia, para pecinta sepeda onthel seringkali membedakan varian ini menjadi dua tipe yakni Simplex Cycloide Kruisframe (SCK) dan Simplex Neo Kruisframe (SNK) atas dasar perbedaan setang dan tromol. Dinamakan SNK dikarenakan SPG menggunakan setang dan tromol yang umum digunakan pada Simplex Neo. Sedangkan SCK lebih ditujukan pada SPG dengan tromol khas Cycloide dan setang khas Cycloide Luxe.

Berdasarkan referensi Katalog Simplex 1937, 1953 dan 1956, sesungguhnya tidak pernah ada penamaan SNK, yang resmi otentik hanyalah SCK. Desain tromol depan khas Cycloide sebagaimana terlihat pada Gambar 1 terpampang pada Katalog 1937. Sedangkan desain tromol belakang sesuai penampakan pada Gambar 2 diperkirakan produksi tahun lebih muda, karena pada Katalog 1937, desain tromol belakang masih model kait rem dengan bentuk melingkar. Pada SPG yang lebih muda menggunakan tromol sebagaimana lazim digunakan pada Simplex Neo sebagaimana terlihat pada Gambar 3 dan 4.

Trapas (as tengah) Simplex dengan sistem Cycloide merupakan salahsatu inovasi terpenting dalam industri sepeda. Karena dengan desain tersebut, bola-bola logam laker akan menggesek ring rumahnya dalam posisi ring tegak lurus. Sehingga berbeda dibandingkan sistem Cup 'n Cone dimana bola logam akan menggesek ring rumahnya dalam posisi miring. Dengan demikian klaim 70% less friction memang benar apa adanya. Inilah rahasia Simplex Cycloide yang kemudian membuat tingkat kenyamanan kayuhan menjadi sangat tinggi mendekati Gazelle atau Fongers. Pada Gambar 6, terlihat jelas gambaran komik, mengenai perbedaan antara sistem laker Cycloide dan sistem gotri Cup'n Cone. Pada sistem Cup'n Cone ibarat orang mendorong drum dengan posisi miring sehingga bisa dipastikan akan mengalami tekanan gesekan antar logam yang cukup tinggi dibandingkan sistem laker Cycloide.

 

Gambar 1
Gambar 2

 

Gambar 3
Gambar 4

 

Setang SPG menurut Andyt yang dikenal sebagai Pakar Sepeda Simplex dan Fongers, sesungguhnya selalu sama dengan Simplex Neo. Opini ini didukung bukti pada Katalog 1937, dimana setang edisi istimewa dengan tuas rem melintang tersembunyi di dalam bodi setang tersebut, sebenarnya merupakan setang otentik yang hanya diaplikasikan pada varian Simplex Cycloide Elite (rem karet) dan Simplex HH Geestelijken (Priesterrijwiel). Pada Gambar 5 bisa dicermati contoh setang Simplex Cycloide Elite yang memang luarbiasa indah dan legendaris tersebut.

 

Gambar 5
Gambar 6

 

Desain bodi dan setang SPG sesungguhnya tidak pernah berubah. Hal ini terbukti jelas pada Katalog 1937, 1953 dan 1956. Pada katalog 1937, sistem roda SPG ditawarkan dalam 3 opsi yakni:

  1. Roda depan dan belakang keduanya menggunakan sistem tromol.
  2. Roda depan memakai sistem free wheel dan roda belakang menggunakan sistem tromol.
  3. Roda depan mengadopsi sistem free wheel dan roda belakang mengaplikasikan sistem torpedo.

Kemudian pada katalog 1953 dan 1956, SPG hanya ditawarkan dalam opsi 1 dan opsi 3 sebagaimana disebutkan di atas. Namun dalam perkembangannya, seringkali juga ditemukan artefak-artefak SPG yang mengadopsi Tromol 3 Persneling dari Sturmey Archer (SA) sebagaimana juga yang terjadi dengan sepeda Gazelle tahun 1950s. Pada Katalog 1956, tersurat tromol persneling SA menjadi aksesori resmi untuk sepeda Simplex. Kerjasama ini sangat stratejik, karena Simplex tidak pernah memproduksi tromol persneling.

Selanjutnya, saya ingin berbagi mengenai temuan spatbord SPG yang ternyata berbentuk lengkung seperti sepeda Inggrisan sebagaimana terlihat pada Gambar 7 yang sekaligus bisa diperbandingkan dengan desain spatbord Simplex model kotak seperti terlihat pada Gambar 8. Artefak SPG dengan spatbord lengkung ini juga pernah ditemukan oleh Yudi Kasim "Marcopolo", salah satu pakar sepeda onthel di Indonesia.

 

Gambar 7
Gambar 8

 

Bilamana diamati lebih lanjut pada Gambar 9, desain spatbord model lengkung membuat penampilan SPG ini menjadi lebih manis tidak se-macho SPG dengan desain spatbord kotak. Perbedaan menarik lainnya untuk dicermati adalah desain velg pada SPG spatbord lengkung yang menggunakan varian velg berbeda dengan SPG yang lebih tua. Velg sebagaimana terlihat pada Gambar 10 terbuat dari bahan alumunium dengan tonjolan tengah model kotak melingkar.

 

Gambar 9
Gambar 10

 

Pada Gambar 11 dan 12 terlihat perbandingan penampilan SPG Kotak dan SPG Lengkung secara umum. Terlihat jelas tidak ada perbedaan menyolok antara yang satu dan lainnya. Pada SPG spatbord lengkung, klem lampu tidak lagi model kotak khas Simplex, tetapi menggunakan klem baut. Saat test ride, keduanya tidak menunjukkan kinerja kendali maupun kayuhan yang berbeda. Rasa kayuhan mantap khas Simplex tetap terasa kuat di kedua artefak tersebut.

Varian SPG dengan spatbord lengkung sejauh ini hanya ditemukan pada SPG-SPG yang beredar di Belanda. Sedangkan SPG yang beredar di Indonesia semuanya menggunakan spatbord kotak sebagaimana lazimnya sebuah sepeda Simplex. Kemudian barangkali juga timbul pertanyaan penasaran mengenai perbedaan antara SPG dan JPG (Juncker Palang Gapit). JPG sungguh merupakan desain yang paling mirip dengan SPG. Menurut www.rijwiel.net, perbedaan mendasar ternyata terletak pada dua hal yakni:

  1. Diameter pipa gapit adalah 1 inchi untuk JPG dan 7/8 inchi untuk SPG.
  2. Pada JPG, pipa gapit tidak dihubungkan dengan pipa palang tengah. Jadi mengapit saja tetapi tidak menyambung sebagaimana terjadi pada SPG.

Berbahagialah bagi onthelis yang mampu memiliki varian SPG, karena sepeda ini termasuk kategori state of the art , dibuktikan dengan fakta bahwa desain ini mampu bertahan sampai sekitar 25 tahunan tanpa perubahan apapun. Simplex memang benar-benar nge-ROCK!

 

Gambar 11
Gambar 12

 

 


Copy Right (c) 2010 Sahid Nugroho