KLANGENAN SERI 17- Sahid (22/10/10)


KLAKSON CAMPANELCLAX

 

Campanelclax seperti terlihat pada Gambar 1, adalah sebuah merek klakson sepeda yang dibuat oleh pabrik di Perancis. Pabrikan tersebut masih belum terlacak nama perusahaannya sampai saat ini. Saya lebih suka menjuluki aksesori sepeda yang cantik ini sebagai klakson daripada bel, karena suaranya memang tidak layak disebut sebagai bel atau lonceng yang berdenting. Klakson campanelclax mengeluarkan suara khas yang mirip-mirip suara klakson sepeda Amerika. Klakson Campanelclax menggunakan tenaga mekanik dengan menggerakkan tuas klakson dari kanan ke arah kiri. Bilamana kondisi mekaniknya masih sangat baik, cukup dengan dorongan jempol secara lembut, akan muncul suara khas-nya krik-krek...krok-krok...krik-kok. Suara Campanelclax ini mendekati suara klakson motor kumbang seperti DKW atau skuter seperti Vespa. Perbedaannya adalah pada intensitas suara yang lebih pendek karena penggunaan tenaga mekanik. Di Indonesia, bel ini sungguh sangat didewakan karena selain bentuknya unik juga super langka. Suara unik yang dihasilkan yakni semacam suara katak membuat klakson ini menjadi populer dengan nama bel kodok.

 

Gambar 1
Gambar 2

 

Menurut Yudi Kasim, salahsatu pakar sepeda onthel di Indonesia yang juga menggemari produk legendaris ini, klakson Campanelclax pada awalnya adalah klakson bawaan orisinil untuk motor kumbang Alpino buatan Itali. Temuan ini kemudian membuat sebagian orang menganggap bahwa klakson ini adalah produk buatan Itali. Padahal fakta yang benar adalah produk asli buatan negara Perancis. Kemudian menurut Marko Nugroho, pakar senior sepeda motor klasik asal Yogyakarta yang sekarang tinggal di Paris, klakson Campanelclax dibuat oleh Pabrik CLERMONT FERRAND yang berlokasi di selatan kota Paris. Clermont Ferrand adalah desainer asal Itali yang hijrah ke Perancis karena krisis politik di negaranya.

Salah satu ciri tertentu dari klakson ini ialah adanya gambar kepala burung pada tuas klakson sebagaimana terlihat pada gambar 2. Pada bagian punggung atas terlihat tulisan merek Campanelclax dalam huruf kapital. Kemudian pada bagian tengah tertera tulisan Brevete Depose yang berarti produk ini sudah resmi dipatent-kan. Di Indonesia, karena super langka, diperkirakan populasi klakson Campanelclax hanya terdapat sekitar 50 unit yang masih utuh dan normal. Di Belanda yang terkenal sebagai negeri sepeda, klakson ini juga sulit ditemui. Jadi beruntung sekali, bilamana anda termasuk onthelis yang mampu mengkoleksi klakson legendaris ini.

Berdasarkan artefak yang berhasil saya temui, ternyata ada 3 varian Klakson Campanelclax yang beredar di Indonesia. Varian pertama ditemui dengan kondisi semua bodi klakson terbuat dari logam kuningan yang diyakini sebagai versi tertua. Varian yang kedua adalah bodi klakson terbuat dari kombinasi dua logam. Yakni logam kuningan pada bagian corong dan punggung, kemudian logam besi pada bagian landasan, tuas dan klem. Varian ketiga, semua bodi klakson terbuat dari logam besi. Pada varian ketiga ini, gambar kepala burung pada tuas klakson juga lebih kecil dan tanpa lingkaran. Tentu saja mengenai harga pasar, varian dengan materi logam kuningan lebih banyak semestinya lebih mahal. Karena resonansi suara klakson yang dihasilkan akan jauh lebih sempurna. Bilamana ingin diperbandingkan pada varian satu dan dua, suara normalnya cenderung memiliki tone lebih tinggi (bersuara krik-krek) dibanding varian tiga dengan tone medium (berbunyi krok-krok).

Posisi pergerakan tuas klakson dari kanan ke kiri sesungguhnya adalah wujud desain yang memposisikan klakson ini pada ujung setang sebelah kiri daripada ujung sebaliknya. Dengan demikian ibu jari pengendara sepeda akan mudah membunyikan klakson ini. Pengalaman saya dalam memasang klakson ini, menunjukkan tingkat kesulitan untuk menempatkannya pada posisi yang ideal. Hal ini dikarenakan posisi klem klakson adalah miring 45 derajat dari garis tengah bodi klakson seperti terlihat pada gambar 4. Sehingga ketika dipasang pada posisi ujung setang sepeda sebagaimana kalau kita memasang bel, bagian depan klakson akan menghadap ke arah kiri bukan lurus kedepan. Hasilnya, penampilan klakson menjadi seakan-akan tidak simetris dengan setang sepeda. Sebagai solusi, saya biasanya memasang klakson Campanelclax pada tiang tengah setang. Pada posisi disitulah klakson sepeda buatan Perancis ini akan tampak harmonis dengan desain setang sepeda.

 

Gambar 3
Gambar 4

 

Harga klakson Campanelclax saat ini luarbiasa mahal, baik di Indonesia maupun di pasar internasional. Rata-rata harga pasaran sekitar Rp 2,5 - 3,5 juta tergantung pada kondisi khroom dan mekanik bel. Saya yakin bahwa harga klakson ini akan terus bertambah mahal di masa-masa mendatang dengan semakin langkanya produk ini di pasaran. Tingginya minat orang terhadap bel ini, kemudian direspon oleh para pengrajin aksesori sepeda di Jawa Timur dengan memproduksi replika klakson sepeda yang mampu menghasilkan suara serupa. Namun demikian, klakson replika tetap belum bisa menjadi subtitusi untuk klakson yang asli. Mengenali Klakson Campanelclax secara fisik apakah tergolong varian 1, 2 atau 3 relatif sulit bilamana khroom masih sempurna sebagaimana terlihat pada kondisi NOS (new old stock). Demikian juga bilamana hendak dilacak dari tipe suara, karena saya pernah menemui varian satu dan dua yang ternyata memiliki suara dengan tone rendah. Tapi saya meyakini, bilamana kondisi masih sempurna, mestinya varian satu dan dua akan berbunyi dengan tone tinggi.

Bagi penggemar sepeda yang serius, memiliki klakson campanelclax yang orisinil akan menjadi satu puncak kepuasan dan sekaligus kebanggaan tersendiri. Suara dan bentuk yang unik dari klakson sepeda ini secara alami akan menjadi POI (point of interest) yang sangat kuat pada penampilan sepeda secara keseluruhan. Saat ini klakson campanelclax masih bisa dibeli pada beberapa toko klithikan atau kolekdol tertentu di Indonesia, sehingga masih ada kesempatan bagi anda untuk ikut merawat salahsatu heritage mempesona dalam dunia sepeda onthel...krik-krek...krok-krok...krik-kok.

 

Gambar 5

 


Copy Right (c) 2010 Sahid Nugroho