KLANGENAN SERI 15 - Sahid (9/9/10)


TEST RIDE: RUDGE LIMITED EDITION 1930s

Rudge adalah sepeda Inggris yang cukup tersohor selain Sun Beam, Humber dan Raleigh. Logo tangan terbuka yang mirip dengan lambang perguruan silat tenaga dalam di Indonesia ini menjadi ciri yang kuat dari merek ini. Salahsatu varian sepeda Rudge yang cukup sensasional adalah Rudge Limited Edition. Sepeda ini didesain sedemikian rupa dengan konsep sepeda roadster. Desain rangka sebagaimana pola Inggrisan, dengan dilengkapi klem pompa permanen pada sisi kiri tiang sadel. Di Indonesia pernah dijumpai varian Rudge LE ini tetapi bertipe perempuan dan ternyata desain spatbordnya tidak seunik yang tipe lelaki. Desain spatbord belakang dan depan dengan aksen spoiler ini (gambar 3 dan 4), selain melindungi dari percikan air atau lumpur juga diduga memberikan kontribusi daya aerodinamis saat melaju kencang. Baut tangkai spatbord ternyata hanya satu saja terletak ditengah-tengah ujung spatbord bawah. Branding Limited Edition terlihat jelas pada transfer merek yang menempel di spatbord belakang (gambar 2) dan juga pada desain karet pedal yang mirip pedal sepeda bermesin (gambar 8).

Gambar 1
Gambar 2

Setang dan tangkai pedal dari sepeda ini asli berwarna hitam, sehingga memunculkan kesan macho yang sangat kuat. Sadel bawaan orisinil bermerk Brooks dengan tiang sadel model L. Untuk sistem roda, sepeda ini tetap menggunakan velg pola Inggris yakni depan 32 lubang dan belakang 40 lubang. Sistem pengereman berbasis rem tromol dengan desain baut setelan yang unik. Pada gambar 6, terlihat bentuk tutup rantai juga tidak kalah unik, yakni model "tlesepan" dari bawah yang memudahkan proses pemasangan dan penyetelan rantai. Jadi tutup rantai secara horizontal dapat dibuka ke bawah dengan engsel terletak dibagian depan. As tengah model kecil (gambar 5) dengan fasilitas pengisian oli yang cukup fleksibel. Gir tengah bergambar tangan terbuka khas logo merek Rudge dijumpai dengan desain khroom.

Gambar 3
Gambar 4

Penampilan spesial lainnya adalah bahwa setopan sepeda ini tidak diletakkan pada bagian belakang spatbord, namun justru diklem permanen pada porok belakang. Setopan tersebut adalah tanpa merek dengan tipe reflektor atau tanpa lampu. Sepeda ini memiliki tinggi ukuran 26 inchi sehingga tampil cukup gagah, meskipun tetap menyulitkan sang pengendara saat di posisi lampu merah di jalan. Sebagai aksesori tambahan, sepeda ini dilengkapi dengan lampu Berko Jerman model kaleng, kunci otomatis Cedo Denmark, pompa tangan SKS Jerman, dan tas sadel kulit khas Inggris buatan lokal.

Gambar 5
Gambar 6

Hasil pengujian di jalanan kota, dapat diambil beberapa hasil pengujian sebagai berikut:

  1. Ergonomi setang kurang ideal, sang pengendara dipaksa agak membungkuk. Setang juga tidak memiliki tiang yang cukup panjang, sehingga sulit untuk ditinggikan lagi. Dan untuk pengendara berbadan tinggi, lama-lama tangan akan sedikit kesemutan karena titik berat badan yang membungkuk secara alami akan memusat ke telapak tangan.
  2. Kayuhan terasa sedang, tidak berat dan juga tidak ringan. Namun demikian mutu as roda-roda yang masih bagus membuat sepeda ini nyaman untuk dipacu. Barangkali kalau coba dibandingkan, relatif setara dengan sensasi kayuhan pada sepeda Simplex Neo Belanda.
  3. Sepeda ini nyaman untuk dipacu pada jalanan datar, kendali setang cukup mantap meskipun tetap kurang ergonomis.
  4. Sadel Brooks model sport yang digunakan memang didesain untuk sepeda semi balap dengan ciri lebar sadel yang relatif ramping. Alas kulit yang keras, bila digunakan pada jarak relatif jauh membuat pantat mudah penat dan bagian selangkang terasa kaku..
  5. Pedal model blok ternyata tidak menimbulkan daya kayuh yang berbeda. Pedal ini terasa simpel di kaki karena bentuknya kecil.

Dari lima titik pengujian di atas, dapat disimpulkan bahwa sepeda ini memiliki kinerja cukupan. Nilai lebih bisa diberikan pada penampilan yang memang terlihat macho dan mungkin sedikit "heavy metal" he..he..he..

Gambar 7
Gambar 8

 


Copy Right (c) 2010 Sahid Nugroho