KLANGENAN SERI 13 - Sahid (9/5/10)


LAMPU, DINAMO & SETOPAN FONGERS

Sebagaimana sudah diramalkan pada tahun 2007 silam, mulai tahun 2009 silam terjadilah gelombang perburuan sepeda onthel gelombang ketiga yakni dengan sasaran utama sepeda merek Fongers buatan Belanda. Sepeda ini pada awal musim demam sepeda onthel, tidak begitu menjadi perhatian dunia onthelis, sehingga fenomena di Indonesia ini berkebalikan dengan kondisi di negeri asalnya Belanda yang mendudukkan sepeda Fongers sebagai the most collectible item sebelum merek Simplex dan Gazelle.

Demam sepeda merek Fongers di Indonesia sesungguhnya tidak lepas dari peran beberapa tokoh onthelis Indonesia yang aktif memberikan ulasan mengenai salahsatu merek sepeda terbaik di dunia ini, yakni antara lain Andrian Dektisa (Andyt), Niko Kurnia, dan Nureska (Wongeres). Sepeda Fongers memang diakui sebagai sepeda ternyaman melalui kualitas metalurgi sedemikian rupa, sehingga sepeda ini berbobot ringan namun kuat. Hasil studi banding yang dilakukan penulis, sepeda merek Gazelle dan Simplex Cycloide juga tidak kalah nyaman namun pada posisi jalan menanjak sepeda merek Fongers yang berbobot lebih ringan tentu saja akan terasa lebih nikmat dibanding sepeda Gazelle maupun Simplex yang relatif berat bobotnya.

Demam sepeda Fongers tentu saja akan diikuti demam aksesori orisinil Fongers. Dalam ulasan Klangenan kali ini, penulis akan memberikan referensi mengenai tipe-tipe aksesori otentik untuk merek Fongers. Ulasan akan dimulai dengan kategori lampu dan dinamo. Sejauh referensi yang ada, lampu dan dinamo otentik Fongers baru muncul tahun 1930-an ditandai dengan dua iklan sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.

Gambar 1
Gambar 2

Menurut arsip iklan pada Gambar 1, set lampu dinamo FG (Fongers Groningen) tipe awal yang mulai dipasarkan sekitar tahun 1931 ini, terlihat menggunakan basis produk lampu dinamo VT dengan desain khas yakni lampu model kupingan dan dinamo "tapal kuda". Set lampu-dinamo yang penampakkan riilnya terlihat pada Gambar 3 ini, memang super langka baik di Indonesia maupun Belanda. Kemudian pada tahun 1936 sebagaimana arsip iklan pada Gambar 2, muncul update model lebih baru yang ditandai dengan desain dinamo model botol, sedangkan desain lampu yang lama masih tetap dipertahankan. Lampu tipe kedua yang sekarang juga mulai tergolong langka ini bisa diamati pada Gambar 4.

Gambar 3
Gambar 4

Kemudian pada periode dasawarsa 1950-an muncul desain dinamo yang lebih kecil sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Dalam masa itu, diperkirakan lampu Fongers akan berdesain model lombok sebagaimana trend lampu sepeda tahun 1950-an. Sejauh ini penulis belum menemukan referensi gambar untuk menunjukkan desain lampu yang otentik. Namun bisa diprediksi bahwa desainnya tidak akan jauh-jauh dari desain lampu Fongers PFG.

Gambar 5
Gambar 6

Selanjutnya ulasan akan mengarah pada lampu setopan. Sejauh bukti artefak yang pernah ditemui, terdapat 4 tipe lampu setopan Fongers. Setopan generasi awal adalah setopan reflektor sederhana yang biasanya dipasang pada posisi dibawah baut tiang spatbord belakang. Tipe setopan generasi pertama sebagaimana terlihat pada Gambar 6 ini, banyak ditemui pada sepeda Fongers produksi sebelum era tahun 1930-an. Tipe setopan Fongers generasi kedua yang diperkirakan diproduksi tahun 1930-an berbentuk bulat dan mulai menggunakan lampu, jadi tidak sekedar reflektor saja. Sayang sekali penulis belum memiliki gambar otentiknya.

Tipe setopan Fongers generasi ketiga diperkirakan adalah sebagaimana terlihat pada Gambar 7. Setopan yang diproduksi tahun 1950-an ini, menggunakan desain setopan universal yang banyak diadopsi oleh merek-merek sepeda Belanda pada masa itu. Sehingga seringkali ditemukan setopan dengan desain yang sama namun memiliki merek yang berbeda-beda. Setopan Fongers generasi keempat yang diproduksi awal tahun 1960-an ini, dijumpai memiliki desain panjang dengan variasi karet di sepanjang sisi-sisinya sebagaimana terlihat pada Gambar 8.

Gambar 7
Gambar 8

 


Copy Right (c) 2010 Sahid Nugroho