KLANGENAN SERI 12 - Sahid (4/4/10)


BEL ORISINIL SIMPLEX

 

Sebagaimana terjadi pada merek sepeda Belanda yang populer lainnya, bel Simplex merupakan aksesori yang menarik untuk dikoleksi karena selain tergolong langka bel sepeda ini memiliki denting suara yang cukup keras. Sejauh proses observasi yang dilakukan, penulis menemukan 5 varian bel Simplex dari generasi awal tahun 1930s sampai dengan tahun 1960s. Bel Simplex generasi pertama yang berhasil ditemui adalah model kring dengan klem biasa 2 sekrup. Ciri utama bel ini adalah logo merek Simplex tercetak langsung menyatu dengan kubah tutup bel. Pada tipe ini terdapat 2 varian yakni berbahan perunggu (gambar 1) dan kuningan (gambar 2). Keduanya berdenting cukup keras, namun untuk bel berbahan perunggu memiliki karakter menonjol pada nada medium, sedangkan pada bel berbahan kuningan terdengar kuat pada nada tinggi sebagaimana bel-bel kuningan pada umumnya. Kerasnya denting bel simplex ini mengalahkan denting bel Fongers model kuno yang juga sama-sama keras. Kedua bel ini diperkirakan produksi tahun 1930s awal dimana hampir semua merek sepeda mulai membubuhkan identitas logo merek pada bodi bel. Pada tahun sebelum 1930s, rata-rata bel orisinil sebuah sepeda hanya berbentuk polos tanpa identitas spesifik, sehingga terkesan tidak otentik.

Gambar 1
Gambar 2

Temuan lain yang cukup menakjubkan adalah bel simplex generasi kedua. Bel ini terbuat dari bahan yang tidak lazim yakni alumunium. Bel generasi kedua ini memiliki dua tipe yakni bel kring dan bel ding-dong. Sebagaimana terlihat pada Gambar 3a sampai dengan 4b, bel alumunium ini memiliki ciri logo merek yang dicetak pada logam kuningan di tengah kubah tutup bel. Meskipun alumunium, untuk bel kring, ternyata mampu menjadi juara suara terkeras dibanding 3 tipe bel Simplex lainnya. Keras tapi cempreng khas suara logam alumunium. Desain klem pada bel kring alumunium juga cukup unik, sekrup dibaut langsung pada bodi bawah bel. Bel alumunium tipe ding-dong ternyata memiliki suara yang tidak mantap. Hal ini barangkali disebabkan logam alumunium yang sulit berdenting keras dibanding logam kuningan ataupun besi.

Gambar 3a
Gambar 3b

 

Gambar 4a
Gambar 4b

 

Terpampang pada gambar 5a dan 5b, bel Simplex generasi ketiga diperkirakan produksi tahun 1950s. Sebagaimana terlihat juga pada desain sepeda Belanda pada pertengahan tahun 1950s yang cenderung sama untuk setiap merek, fenomena ini juga terlihat pada desain bel yang tidak terlalu unik pada masa itu. Pada bel generasi ketiga ini, logo merek hanya dicat pada lingkaran tengah kubah tutup bel tanpa proses cetak atau grafir pada logam kubah sebagaimana pada bel-bel generasi sebelumnya. Desain klem adalah model kalung satu sekrup yang juga menjadi ciri khas bel Lucas.

Gambar 5a
Gambar 5b

Selanjutnya adalah bel Simplex generasi keempat yang diproduksi pada akhir tahun 1950s dengan desain umum persis dengan bel generasi sebelumnya. Perbedaan mencolok hanya pada desain logo merek yang tercetak di bagian tengah kubah tutup bel sesuai penampakan pada gambar 6a dan 6b. Tulisan simplex pada logo menjadi menyilang, tidak lagi tertulis didalam huruf S sebagaimana pada tipe ke 3. Hal lain yang tidak sama adalah desain klem yang kembali menggunakan model 2 sekrup. Hasil uji perbandingan modulasi suara, tidak terlihat perbedaan nada yang signifikan antara bel tipe 3 dan tipe 4.

Gambar 6a
Gambar 6b

Secara umum bisa disimpulkan bahwa karakteristik unik yang menonjol dari bel-bel Simplex generasi lama adalah produksi nada kring yang cukup nyaring. Atribut suara keras ini tidak lagi terlihat pada bel-bel Simplex generasi baru. Barangkali tuntutan industri modern yang menekankan efisiensi dan keterjangkauan harga membuat spesifikasi mutu metalurgi material bel menjadi tidak sebaik sebelumnya.

 


Copy Right (c) 2007 Sahid Nugroho