CERITA 15


SEPEDA PASTUR (Kamis, 23/6/11 - Sahid Nugroho)

Berbicara sepeda pastur, hampir dipastikan ingatan orang langsung melayang ke Burger Pastur. Sepeda dengan tiang 3 yakni 2 di frame lengkung dan satu di pangkal frame tiang sadel ini, memang sangat populer di Indonesia karena banyak Pendeta Kristen terkenal di Indonesia yang menggunakannya. Bahkan karena terlalu populer, saat ini bagi orang awam, Burgers dames-pun selalu dianggap sebagai Burgers Pastur padahal keduanya memiliki ciri berbeda. Berdasarkan referensi (Gambar 1), saya biasanya menandai Burger Pastur dengan 3 hal yakni: (1) setang model lurus bukan kupu, (2) ada 3 tiang di frame sepeda, (3) crankstel menggunakan ukuran Heren dan terakhir (4) sadel juga ukuran heren. Frame sepeda pastur sekilas memang identik dengan frame sepeda Dames. Namun demikian pada frame biasanya diperkuat dengan tiang-tiang tambahan guna menahan beban pengendara pria yang cenderung lebih berat.

 

 

Gambar 1

 

Sepeda pastur yang dalam budaya Belanda disebut sebagai Pristerrijwiel atau istilah lebih kuno lagi yakni Geestelijken ini, ternyata diproduksi oleh hampir semua pabrikan sepeda. Beberapa referensi yang pernah saya temui, pabrikan Gazelle, Simplex, Phoenix dan Gruno juga memproduksi sepeda pastur. Secara umum, sepeda pastur bisa dipastikan memiliki tiang frame lebih dari satu, kecuali pada Gruno Rijwiel (Gambar 5). Bahkan yang paling ekstrem mungkin adalah Phoenix Pristerrijwiel yang memiliki 4 tiang.

 

Gambar 2

 

Berbasis Katalog Simplex 1937, pada tahun tersebut Simplex meluncurkan HH Geestelijken (Gambar 2). Istilah HH muncul karena penampakan frame lengkung dengan 2 tiang seperti 2 huruf HH berjajar atas bawah. Pada edisi 1937, sepeda bersangkutan terlihat mengadopsi setang model luxe dengan sistem rem karet. Penampakan berbeda dan jauh lebih sederhana pada Simplex Pristerrijwiel yang diluncurkan pada tahun 1953 sesuai Katalog Simplex tahun tersebut (Gambar 3). Nama lama yakni HH Geestelijken tidak lagi digunakan. Untuk edisi 1953, Simplex Priesterrijwiel mengadopsi sistem rem torpedo. Baik versi 1937 maupun versi 1953 menggunakan sadel tipe Heren karena sepeda ini memang diperuntukkan bagi Pendeta. Pada Katalog Simplex 1956, sepeda pastur tidak lagi masuk dalam portfolio produk Simplex tahun tersebut.

 

Gambar 3

 

Merek tersohor lainnya yang juga mengembangkan Priesterrijwiel adalah Gazelle. Gazelle Priesterrijwiel masuk dalam Katalog 1934 sebagaimana terlihat pada Gambar 4. Setang sepeda sebagaimana yang kita jumpai pada Gazelle seri 5 kebawah dengan sistem rem karet. Sekali lagi kita lihat bahwa sepeda pastur Gazelle juga menggunakan sadel heren. Pada Katalog 1953, Gazelle sudah tidak lagi memasukkan varian sepeda pastur dalam portfolio produknya.

 

Gambar 4

Pada Gambar 5, terlihat Gruno Priesterrijwiel yang justru masih menggunakan satu tiang saja pada frame lengkung. Gruno priesterrijwiel tidak populer di Indonesia sehingga barangkali keberadaannya langka sekali. Bahkan sepeda pastur merek Gazelle dan Simplex juga tidak setenar Burgers, sejauh ini baru terdeteksi satu sepeda Simplex Priesterrijwiel dan satu sepeda Gazelle Priesterrijwiel. Kedua disimpan kolektor-kolektor dari Surabaya. Sepeda dinas gereja ini, saat ini banyak diburu para kolektor sepeda di Indonesia karena memiliki nilai keunikan tersendiri dan relatif langka.

Gambar 5

 


Copy Right (c) 2011 Sahid Nugroho